saya akan mengepost tentang Dhammapada tiap hari, tetapi apabila dalam sehari saya tidak mengepost Dhammapada akan saya ganti dihari berikutnya. silahkan menyimak Dhammapada berikut ini.
DHAMMAPADA
i) Yamaka Vagga (Syair Berpasangan)
Segala keadaan kita ditentukan oleh pikiran kita, dijadikan oleh pikiran kita. Pikiran kita diibaratkan sebagai majikan. Bila kita berkata dan berbuat dengan pikiran jahat maka penderitaan akan mengikuti kita bagaikan roda pedati mengikuti kaki lembu yang menariknya. (Dhammapada 1)
Sadhu Sadhu Sadhu
Segala keadaan kita ditentukan oleh pikiran kita, dijadikan oleh pikiran kita. pikiran kita diibaratkan sebagai majikan. Bila kita berkata dan berpikir dengan pikiran yang baik maka kebahagiaan akan selalu mengikuti kita, bagaikan bayangan suatu benda tidak pernah terpisah dari bendanya. (Dhammpada 2)
sadhu Sadhu Sadhu
Ia menghina aku, ia memukul aku, ia mengalahkan aku, ia merampok aku. Orang yang selalu berpikir demikian kebenciaanya tidak akan mereda. (Dhammapada 3)
Sadhu Sadhu Sadhu
Ia menghina aku, ia memukul aku, ia mengalahkan aku, ia merampok aku. Orang yang tidak berpikir demikian, kebenciannya akan segera mereda. (Dhammapada 4)
Sadhu Sadhu Sadhu
Kebencian tidak akan berakhir kalau dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih. Ini merupakan hukum yang kekal abadi. (Dhammapada 5)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang tidak mengetahui, bahwa dalam pertikaian mereka akan musnah. Mereka yang mengetahui hal ini akan segera berdamai dan tenang kembali. (Dhammapada 6)
Sadhu Sadhu sadhu
Orang yang selalu mencari kesenangan, yang tidak dapat mengendalikan indra-indranya yang makanannya mewah/pemalas dan lemah ia pasti ditaklukkan oleh Mara bagaikan pohon kayu yang lemah ditumbangkan oleh angin topan yang dasyat. (Dhammapada 7)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang yang merenungkan hal-hal yang menjijikkan, yang senantiasa mengendalikan indra-indranya, makanannya sederhana, giat dan rajin melatih diri ia tak akan dapat ditaklukkan oleh mara, bagaikan sebuah gunung batu yang teguh kukuh tidak tergoncangkan oleh badai dan topan. (Dhammapada 8)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang yang berlumuran noda, yang indra-indranya tidak terkendalikan, yang culas dan tidak jujur, tidak pantas untuk menggunakan jubah kuning. (Dhammapada 9)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang yang bersih dari segala noda ,yang taat melaksanakan sila, yang selalu tekun dan jujur, dialah sebanarnya yang layak mengenakan jubah kuning. (Dhammapada 10)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang mengutamkan yang tidak benar dibandingkan dengan yang benar, orang yang mempunyai pandangan keliru seperti itu tidak mungkin dapat menghayati kesunyataan. (Dhammapada 11)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang mengutamakan yang benar dibandingkan dengan yang tidak benar, orang mempunyai pandangan benar seperti itu pasti dapat menghayati kesunyataan. (Dhammapada 12)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan curahan air hujan menembus atap yang bocor. Demikianlah nafsu keinginan dapat menembus batin orang yang lemah. (Dhammapada 13)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan curahan air hujan tak dapat menembus atap yang kokoh. Demikianlah nafsu keinginan tidak dapat menembus batin orang yang teguh. (Dhammapada 14)
Sadhu Sadhu Sadhu
Di alam ini ia bersedih, juga di alam sana. Di kedua alam ini, orang jahat bersedih hati, ia bersedih, dan menderita segala macam kesusahan sebagai akibat dari perbuatannya yang jahat. (Dhammapada 15)
Sadhu Sadhu Sadhu
Di alam ini ia bahagia, juga dia alam sana. Di kedua alam ini ,orang yang baik hidup bahagia. Ia menerima pahala dari perbuatannya yang baik. (Dhammapada 16)
Sadhu Sadhu Sadhu
Di alam ini ia menderita, juga di alam sana. Di kedua alam ini orang jahat menderita. Ia menderita karena diganggu oleh pikiran jahatnya. Ia akan lahir di neraka dicengkeram oleh derita. (Dhammapada 17)
Sadhu Sadhu Sadhu
Di alam ini ia berbahagia, juga di alam sana. Di kedua alam ini orang jujur hidup bahagia. Ia merasa bahagia oleh pikirannya yang baik. Berkat kebajikannya ia tumimbal lahir di surga. (Dhammapada 18)
Sadhu Sadhu Sadhu
Meskipun ia hafal ayat-ayat kitab suci tetapi perilakunya tidak sesuai dengan sila. Ia dapat diibaratkan sebagai gembala yang bertugas menjaga sapi orang lain, sebanarnya ia tidak berhak untuk mencapai tingkat kesucian. (Dhammapada 19)
Sadhu Sadhu Sadhu
Meskipun ia hafal sedikit ayat kitab suci tetapi perilakunya sesuai dengan sila. Ia telah bebas dari semua ikatan nafsu, bersih dari kebencian dan kebodohan, pikiran telah bebas dari ikatan dan ia akan mencapai kebahagiaan, kesucian. (Dhammapad 20)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sadhu Sadhu Sadhu
Setelah menyadari kewaspadaan dengan jelas ini, Para bijaksana bahagia dalam kewaspadaan, mengenyam ranah para suciwan. (Dhammapada 22)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang tekun bermeditasi, yang terus berupaya keras, yang bijak ini menyentuh Nibbana, keterbebasan dari belenggu yang tiada tara. (Dhammapada 23)
Sadhu Sadhu Sadhu
Ia yang bersemangat, yang berpenyadaran, yang berbuat baik, yang bertindak lembut, yang terkendali, yang hidup sesuai dhamma, yang waspada, ketenarannya bertambah. (Dhammapada 24)
Sadhu Sadhu Sadhu
Dengan upaya dan kewaspadaan, ketenangan diri dan kendali diri, hendaknya orang bijak membuat pulau yang tak dapat ditenggelamkan air bah. (Dhammapada 25)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang dungu, orang-orang yang bodoh, terlena dalam kelengahan. Orang bijak menjaga kewaspadaannya, laksana menjaga harta yang paling berharga. (Dhammapada 26)
Sadhu Sadhu Sadhu
Janganlah terlena dalam kelengahan, janganlah menyenangi kesenangan indrawi. Sesungguhnya, ia yang tekun bermeditasi beroleh kebahagiaan berlimpah. (Dhammapada 27)
Sadhu Sadhu Sadhu
Tatkala orang bijak menghalau kelengahan dengan kewaspadaan, setelah menaiki menara kebijaksanaan, bebas dari kesedihan, laksana orang bijak yang berdiri diatas gunung, memendang orang dungu, orang sedih, yang berdiri di tanah. (Dhammapada 28)
Sadhu Sadhu Sadhu
Waspada di antara yang lengah, terjaga di antara yang terlelap, orang bijak laksana kuda tangkas yang meninggalakan kuda leamh. (Dhammapada 29)
Sadhu Sadhu Sadhu
Berkat kewaspadaan, Sakka menjadi penguasa para dewa. Kewaspadaan dipuji, kelengahan senantiasa dicela. (Dhammapada 30)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bhikkhu yang tekun dalam kewaspadaan, atau yang merasa takut mengetahui kelengahan, maju laksana api membakar belenggu besar dan kecil. (Dhammapada 31)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bhikkhu yang tekun dalam kewaspaddan, atau yang merasa takut mengetahui kelengahan, tidak mungkiin mundur, karena ia tepat di ambang Nibbana. (Dhammapada 32)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sadhu Sadhu Sadhu
Laksana ikan yang dilemparkan dari dalam air ke tanah kering, begitu pula batin ini menggelepar saat berusaha meninggalkan cengkraman Mara. (Dhammapada 34)
Sadhu Sadhu Sadhu
Batin ini sulit dikendalikan, liar, menyinggahi apa pun yang diinginkannya. Menundukkan batin itu baik. Batin yang terkendali membawa kebahagiaan. (Dhammapada 35)
Sadhu Sadhu Sadhu
Batin ini sulit dilihat, sangat halus, menyinggahi apa pun yang diinginkannya. Para bijak, jagalah batin kalian. Batin yang terjaga membawa kebahagiaan. (Dhammapada 36)
Sadhu Sadhu Sadhu
Batin ini berkeliaran jauh, mengembara sendirian, tak terwujud, berdiam di lubuk hati. Barang siapa mampu mengendalikan batin, akan terbebas dari belenggu Mara. (Dhammapada 37)
Sadhu Sadhu Sadhu
Ia yang batinnya terombang-ambing, yang tidak memahami Dhamma sejati, yang goyah keyakinannya, kebijaksanaannya tak akan sempurna. (Dhammapada 38)
Sadhu Sadhu Sadhu
Ia yang batinnya terbebas dari keinginan, yang batinnya tidak galau, yang meninggalkan "baik dan buruk", dan yang terjaga, tidaklah takut. (Dhammapda 39)
Sadhu Sadhu Sadhu
Setelah mengetahui tubuh ini ibarat tempayan, setelah memperkokoh batin ini ibarat kota, seranglah Mara dengan senjata kebijaksanaan, jagalah kemenangan tanpa kelekatan. (Dhammapada 40)
Sadhu Sadhu Sadhu
Oh, tak lama lagi tubuh ini akan terbujur di tanah, ditelantarkan, tanpa kesadaran, laksana sepotong kayu tak berharga. (Dhammapada 41)
Ssadhu Sadhu Sadhu
Apa pun yang bisa dilakukan musuh terhadap musuh, ataupun pembenci terhadap yang dibenci sekalipun, batin yang keliru diarahkan bisa berbuat lebih buruk daripada itu. (Dhammapada 42)
Sadhu Sadhu Sadhu
Apa yang tak mungkin ibu dan ayah lakukan, dan juga sanak saudara lainnya, batin yang benar diarahkan, bisa berbuat lebih baik daripada itu. (Dhammapada 43)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sadhu Sadhu Sadhu
Siswa akan menyelidiki tanah, dan alam Yama dengan para dewanya ini. Siswa akan memahami syair Dhamma yang dibabarkan sempurna, laksana orang piawai memilih bunganya. (Dhammapada 45)
Sadhu Sadhu Sadhu
Setelah mengetahui bahwa tubuh ini ibarat buih air, setelah menyadari sifatnya yang seperti bayang-bayang, setelah mematahkan panah berujung bunga dari Mara, hendaknya seseorang pergi tak terlihat oleh Raja Kematian. (Dhammapada 46)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sesungguhnya orang yang hanya mengumpulkan bunga dengan pikiran yang melekat, akan terseret kematian, laksana desa terlelap terseret banjir bandang. (Dhammapada 47)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sesungguhnya orang yang hanya mengumpulkan bunga dengan pikiran yang melekat, yang selalu tak terpuaskan oleh kenikmatan indrawi, ia dikuasai oleh kematian. (Dhammapada 48)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan lebah yang meninggalkan bunga, tanpa merusak warna dan harumnya, setelah mengambil sarinya, demikianlah hendaknya orang bijak melalui desa. (Dhammapada 49)
Sadhu Sadhu Sadhu
Jangan perhatikan keburukan orang lain, apa yang telah dan belum dilakukan orang lain. Perhatikan saja apa yang telah dan belum dilakukan diri sendiri. (Dhammapada 50)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan sekuntum bunga nan indah, beraneka warna, namun tak harum, demikianlah perkataan yang terucap baik bila tidak dilakukan tidaklah bermanfaat. (Dhammapada 51)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan sekuntum bunga nan indah, beraneka warna, dan harum, demikianlah perkataan yang terucap baik bila dilakukan adalah bermanfaat. (Dhammapada 52)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan dari setumpuk bunga, banyak untaian bunga bisa dirangkai, demikianlah oleh manusia yang terlahir, banyak kebajikan perlu dilakukan. (Dhammapada 53)
Sadhu Sadhu Sadhu
Keharuman bunga tidak berembus menentang angin, tidak cendana, bunga wari, ataupun melati. Keharuman kebajikan menentang angin. Keharuman orang baik merebak ke segenap penjuru. (Dhammapada 54)
Sadhu Sadhu Sadhu
Cendan, bunga wari, ataupun teratai, dan juga melati, di antara keharuman ini, tiada yang setara dengan keharuman kebajikan. (dhammapada 55)
Sadhu Sadhu Sadhu
Tidaklah seberapa keharuman bunga wari dan cendana ini. Keharuman orang bajik adalah yang terbaik, berembus di antara para dewa. (Dhammapada 56)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang terkaruniai kebajikan, yang berdiam dalam kewaspadaan, yang terbebas oleh pengetahuan benar, jejaknya tak dapat ditemukan Mara. (Dhammapada 57)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan dari tumpukan sampah yang dicampakkan di tepi jalan, di sana dapat tumbuh teratai, yang harum murni menawan hati. (Dhammapada 58)
Sadhu Sadhu Sadhu
Demikianlah, di antara makhluk-makhluk kotor, di antara orang kebanyakan yang buta, siswa yang sadar sempurna bercahaya terang dengan kebijaksanaan. (Dhmmapada 59)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sadhu Sadhu Sadhu
Jika seorang pengelana tidak menemukan orang yang lebih baik atau setara dengan dirinya, hendaknya ia teguh berkelana seorang diri. Janganlah bersahabat dengan orang dungu. (Dhammapada 61)
Sadhu Sadhu Sadhu
"Aku memiliki putra. Aku memiliki harta," orang dungu bergundah hati. Sesungguhnya ia pun tidak memiliki dirinya sendiri. Dari mana harta? Dari mana harta? (Dhammapada 62)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang dungu yang mengetahui kedunguannya, ia itu laksana orang bijak. Dan orang dungu yang bangga akan kepandaiannya, ia disebut orang dungu sesungguhnya. (Dhammapada 63)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sekalipun sepanjang hayat orang dungu melayani orang bijak, ia tidak mengerti Dhamma, seperti sendok tidak mengerti rasa sup. (Dhammapada 64)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sekalipun sejenak saja orang pandai melayani orang bijak, dengan segera ia mengerti Dhamma, seperti lidah mengerti rasa sup. (Dhammapada 65)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang dungu dan bodoh bertindak, seakan musuh diri sendiri, melakukan perbuatan buruk, yang berbuah pahit. (Dhammapada 66)
Sadhu Sadhu Sadhu
Tidaklah baik suatu perbuatan itu, yang disesali setelah dilakukan, yang akibatnya dihadapi dengan wajah berlinang air mata dan menangis. (Dhmammapada 67)
Sadhu Sadhu Sadhu
Adalah baik suatu perbuatan, yang tidak disesali setelah dilakukan, yang akibatnya dihadapi dengan gembira dan bahagia. (Dhammapada 68)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang dungu menganggap perbuatan jahat bagai madu selama perbuatan jahat belum matang. Dan tatkala perbuatan jahat matang, maka orang dungu itu akan mengalami duka. (Dhammapada 69)
Sadhu Sadhu Sadhu
Walau bulan demi bulan orang dungu memakan makanannya dengan ujung rumput kusa, ia tidaklah berharga seperenam belas bagian dari orang yang telah menembusi Dhamma. (Dhammapada 70)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sesungguhnya, perbuatan jahat setelah dilakukan tidak seketika berbuah, seperti halnya susu yang tidak mendadih seketika. Perbuatan jahat itu membara mengikuti orang dungu, laksana api tertutup abu. (Dhammapada 71)
Sadhu Sadhu Sadhu
Pengetahuan orang dungu muncul hanya untuk kerugiannya semata. Pengetahuan orang dungu mematikan peruntungannya, menghancurkan kepalanya. (Dhammapada 72)
Sadhu Sadhu Sadhu
Seseorang mungkin mendamba penghormatan yang tidak pada tempatnya, keutamaan di antara para bhikkhu, dan kuasa di tempat-tempat kediaman, serta pemujaan dari keluarga-keluarga sekitarnya. (Dhammapada 73)
Sadhu Sadhu Sadhu
"Biarlah para perumah tangga dan para petapa berpikiran bahwa itu dilakukan olehku saja, biarlah mereka menuruti kemaunku saja, dalam apa pun yang wajib dan tak wajib."Seperti inilah niat orang dungu. Keinginan dan kesombongannya bertambah. (Dhammapada 74)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sesungguhnya ada jalan perolehan duniawi, ada jalan Nibbana. Demikianlah, setelah sepenuhnya paham, bhikkhu siswa Buddha, hendaknya tidak bergembira dalam penghormatan, melainkan berlatih dalam penyunyian. (Dhammapada 75)
Sadhu Sadhu Sadhu
Segala keadaan kita ditentukan oleh pikiran kita, dijadikan oleh pikiran kita. pikiran kita diibaratkan sebagai majikan. Bila kita berkata dan berpikir dengan pikiran yang baik maka kebahagiaan akan selalu mengikuti kita, bagaikan bayangan suatu benda tidak pernah terpisah dari bendanya. (Dhammpada 2)
sadhu Sadhu Sadhu
Ia menghina aku, ia memukul aku, ia mengalahkan aku, ia merampok aku. Orang yang selalu berpikir demikian kebenciaanya tidak akan mereda. (Dhammapada 3)
Sadhu Sadhu Sadhu
Ia menghina aku, ia memukul aku, ia mengalahkan aku, ia merampok aku. Orang yang tidak berpikir demikian, kebenciannya akan segera mereda. (Dhammapada 4)
Sadhu Sadhu Sadhu
Kebencian tidak akan berakhir kalau dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih. Ini merupakan hukum yang kekal abadi. (Dhammapada 5)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang tidak mengetahui, bahwa dalam pertikaian mereka akan musnah. Mereka yang mengetahui hal ini akan segera berdamai dan tenang kembali. (Dhammapada 6)
Sadhu Sadhu sadhu
Orang yang selalu mencari kesenangan, yang tidak dapat mengendalikan indra-indranya yang makanannya mewah/pemalas dan lemah ia pasti ditaklukkan oleh Mara bagaikan pohon kayu yang lemah ditumbangkan oleh angin topan yang dasyat. (Dhammapada 7)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang yang merenungkan hal-hal yang menjijikkan, yang senantiasa mengendalikan indra-indranya, makanannya sederhana, giat dan rajin melatih diri ia tak akan dapat ditaklukkan oleh mara, bagaikan sebuah gunung batu yang teguh kukuh tidak tergoncangkan oleh badai dan topan. (Dhammapada 8)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang yang berlumuran noda, yang indra-indranya tidak terkendalikan, yang culas dan tidak jujur, tidak pantas untuk menggunakan jubah kuning. (Dhammapada 9)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang yang bersih dari segala noda ,yang taat melaksanakan sila, yang selalu tekun dan jujur, dialah sebanarnya yang layak mengenakan jubah kuning. (Dhammapada 10)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang mengutamkan yang tidak benar dibandingkan dengan yang benar, orang yang mempunyai pandangan keliru seperti itu tidak mungkin dapat menghayati kesunyataan. (Dhammapada 11)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang mengutamakan yang benar dibandingkan dengan yang tidak benar, orang mempunyai pandangan benar seperti itu pasti dapat menghayati kesunyataan. (Dhammapada 12)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan curahan air hujan menembus atap yang bocor. Demikianlah nafsu keinginan dapat menembus batin orang yang lemah. (Dhammapada 13)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan curahan air hujan tak dapat menembus atap yang kokoh. Demikianlah nafsu keinginan tidak dapat menembus batin orang yang teguh. (Dhammapada 14)
Sadhu Sadhu Sadhu
Di alam ini ia bersedih, juga di alam sana. Di kedua alam ini, orang jahat bersedih hati, ia bersedih, dan menderita segala macam kesusahan sebagai akibat dari perbuatannya yang jahat. (Dhammapada 15)
Sadhu Sadhu Sadhu
Di alam ini ia bahagia, juga dia alam sana. Di kedua alam ini ,orang yang baik hidup bahagia. Ia menerima pahala dari perbuatannya yang baik. (Dhammapada 16)
Sadhu Sadhu Sadhu
Di alam ini ia menderita, juga di alam sana. Di kedua alam ini orang jahat menderita. Ia menderita karena diganggu oleh pikiran jahatnya. Ia akan lahir di neraka dicengkeram oleh derita. (Dhammapada 17)
Sadhu Sadhu Sadhu
Di alam ini ia berbahagia, juga di alam sana. Di kedua alam ini orang jujur hidup bahagia. Ia merasa bahagia oleh pikirannya yang baik. Berkat kebajikannya ia tumimbal lahir di surga. (Dhammapada 18)
Sadhu Sadhu Sadhu
Meskipun ia hafal ayat-ayat kitab suci tetapi perilakunya tidak sesuai dengan sila. Ia dapat diibaratkan sebagai gembala yang bertugas menjaga sapi orang lain, sebanarnya ia tidak berhak untuk mencapai tingkat kesucian. (Dhammapada 19)
Sadhu Sadhu Sadhu
Meskipun ia hafal sedikit ayat kitab suci tetapi perilakunya sesuai dengan sila. Ia telah bebas dari semua ikatan nafsu, bersih dari kebencian dan kebodohan, pikiran telah bebas dari ikatan dan ia akan mencapai kebahagiaan, kesucian. (Dhammapad 20)
Sadhu Sadhu Sadhu
ii)Appamada Vagga (Kelompok Kewaspadaan)
Kewaspadaan adalah jalan menuju tanpa kematian. Kelengahan adalah jalan menuju kematian. Yang waspada tidaklah mati. Mereka yang lengah bagaikan yang sudah mati. (Dhammapada 21)Sadhu Sadhu Sadhu
Setelah menyadari kewaspadaan dengan jelas ini, Para bijaksana bahagia dalam kewaspadaan, mengenyam ranah para suciwan. (Dhammapada 22)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang tekun bermeditasi, yang terus berupaya keras, yang bijak ini menyentuh Nibbana, keterbebasan dari belenggu yang tiada tara. (Dhammapada 23)
Sadhu Sadhu Sadhu
Ia yang bersemangat, yang berpenyadaran, yang berbuat baik, yang bertindak lembut, yang terkendali, yang hidup sesuai dhamma, yang waspada, ketenarannya bertambah. (Dhammapada 24)
Sadhu Sadhu Sadhu
Dengan upaya dan kewaspadaan, ketenangan diri dan kendali diri, hendaknya orang bijak membuat pulau yang tak dapat ditenggelamkan air bah. (Dhammapada 25)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang dungu, orang-orang yang bodoh, terlena dalam kelengahan. Orang bijak menjaga kewaspadaannya, laksana menjaga harta yang paling berharga. (Dhammapada 26)
Sadhu Sadhu Sadhu
Janganlah terlena dalam kelengahan, janganlah menyenangi kesenangan indrawi. Sesungguhnya, ia yang tekun bermeditasi beroleh kebahagiaan berlimpah. (Dhammapada 27)
Sadhu Sadhu Sadhu
Tatkala orang bijak menghalau kelengahan dengan kewaspadaan, setelah menaiki menara kebijaksanaan, bebas dari kesedihan, laksana orang bijak yang berdiri diatas gunung, memendang orang dungu, orang sedih, yang berdiri di tanah. (Dhammapada 28)
Sadhu Sadhu Sadhu
Waspada di antara yang lengah, terjaga di antara yang terlelap, orang bijak laksana kuda tangkas yang meninggalakan kuda leamh. (Dhammapada 29)
Sadhu Sadhu Sadhu
Berkat kewaspadaan, Sakka menjadi penguasa para dewa. Kewaspadaan dipuji, kelengahan senantiasa dicela. (Dhammapada 30)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bhikkhu yang tekun dalam kewaspadaan, atau yang merasa takut mengetahui kelengahan, maju laksana api membakar belenggu besar dan kecil. (Dhammapada 31)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bhikkhu yang tekun dalam kewaspaddan, atau yang merasa takut mengetahui kelengahan, tidak mungkiin mundur, karena ia tepat di ambang Nibbana. (Dhammapada 32)
Sadhu Sadhu Sadhu
III)Citta Vagga (Kelompok Batin)
Batin yang terombang-ambing, yang goyah, yang sullit dijaga, sulit dikendalikan, orang bijak meluruskannya, laksana membuuat panah meluruskan panah. (Dhammapada 33)Sadhu Sadhu Sadhu
Laksana ikan yang dilemparkan dari dalam air ke tanah kering, begitu pula batin ini menggelepar saat berusaha meninggalkan cengkraman Mara. (Dhammapada 34)
Sadhu Sadhu Sadhu
Batin ini sulit dikendalikan, liar, menyinggahi apa pun yang diinginkannya. Menundukkan batin itu baik. Batin yang terkendali membawa kebahagiaan. (Dhammapada 35)
Sadhu Sadhu Sadhu
Batin ini sulit dilihat, sangat halus, menyinggahi apa pun yang diinginkannya. Para bijak, jagalah batin kalian. Batin yang terjaga membawa kebahagiaan. (Dhammapada 36)
Sadhu Sadhu Sadhu
Batin ini berkeliaran jauh, mengembara sendirian, tak terwujud, berdiam di lubuk hati. Barang siapa mampu mengendalikan batin, akan terbebas dari belenggu Mara. (Dhammapada 37)
Sadhu Sadhu Sadhu
Ia yang batinnya terombang-ambing, yang tidak memahami Dhamma sejati, yang goyah keyakinannya, kebijaksanaannya tak akan sempurna. (Dhammapada 38)
Sadhu Sadhu Sadhu
Ia yang batinnya terbebas dari keinginan, yang batinnya tidak galau, yang meninggalkan "baik dan buruk", dan yang terjaga, tidaklah takut. (Dhammapda 39)
Sadhu Sadhu Sadhu
Setelah mengetahui tubuh ini ibarat tempayan, setelah memperkokoh batin ini ibarat kota, seranglah Mara dengan senjata kebijaksanaan, jagalah kemenangan tanpa kelekatan. (Dhammapada 40)
Sadhu Sadhu Sadhu
Oh, tak lama lagi tubuh ini akan terbujur di tanah, ditelantarkan, tanpa kesadaran, laksana sepotong kayu tak berharga. (Dhammapada 41)
Ssadhu Sadhu Sadhu
Apa pun yang bisa dilakukan musuh terhadap musuh, ataupun pembenci terhadap yang dibenci sekalipun, batin yang keliru diarahkan bisa berbuat lebih buruk daripada itu. (Dhammapada 42)
Sadhu Sadhu Sadhu
Apa yang tak mungkin ibu dan ayah lakukan, dan juga sanak saudara lainnya, batin yang benar diarahkan, bisa berbuat lebih baik daripada itu. (Dhammapada 43)
Sadhu Sadhu Sadhu
IV)Puppha Vagga (Kelompok Bunga)
Siapakah yang akan menyelidiki tanah ini, dan alam Yama dengan para dewanya ini? Siapakah yang akan memahami syair Dhamma yang dibabarkan sempurna, laksana orang piawai memilih bunganya? (Dhammapada 44)Sadhu Sadhu Sadhu
Siswa akan menyelidiki tanah, dan alam Yama dengan para dewanya ini. Siswa akan memahami syair Dhamma yang dibabarkan sempurna, laksana orang piawai memilih bunganya. (Dhammapada 45)
Sadhu Sadhu Sadhu
Setelah mengetahui bahwa tubuh ini ibarat buih air, setelah menyadari sifatnya yang seperti bayang-bayang, setelah mematahkan panah berujung bunga dari Mara, hendaknya seseorang pergi tak terlihat oleh Raja Kematian. (Dhammapada 46)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sesungguhnya orang yang hanya mengumpulkan bunga dengan pikiran yang melekat, akan terseret kematian, laksana desa terlelap terseret banjir bandang. (Dhammapada 47)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sesungguhnya orang yang hanya mengumpulkan bunga dengan pikiran yang melekat, yang selalu tak terpuaskan oleh kenikmatan indrawi, ia dikuasai oleh kematian. (Dhammapada 48)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan lebah yang meninggalkan bunga, tanpa merusak warna dan harumnya, setelah mengambil sarinya, demikianlah hendaknya orang bijak melalui desa. (Dhammapada 49)
Sadhu Sadhu Sadhu
Jangan perhatikan keburukan orang lain, apa yang telah dan belum dilakukan orang lain. Perhatikan saja apa yang telah dan belum dilakukan diri sendiri. (Dhammapada 50)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan sekuntum bunga nan indah, beraneka warna, namun tak harum, demikianlah perkataan yang terucap baik bila tidak dilakukan tidaklah bermanfaat. (Dhammapada 51)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan sekuntum bunga nan indah, beraneka warna, dan harum, demikianlah perkataan yang terucap baik bila dilakukan adalah bermanfaat. (Dhammapada 52)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan dari setumpuk bunga, banyak untaian bunga bisa dirangkai, demikianlah oleh manusia yang terlahir, banyak kebajikan perlu dilakukan. (Dhammapada 53)
Sadhu Sadhu Sadhu
Keharuman bunga tidak berembus menentang angin, tidak cendana, bunga wari, ataupun melati. Keharuman kebajikan menentang angin. Keharuman orang baik merebak ke segenap penjuru. (Dhammapada 54)
Sadhu Sadhu Sadhu
Cendan, bunga wari, ataupun teratai, dan juga melati, di antara keharuman ini, tiada yang setara dengan keharuman kebajikan. (dhammapada 55)
Sadhu Sadhu Sadhu
Tidaklah seberapa keharuman bunga wari dan cendana ini. Keharuman orang bajik adalah yang terbaik, berembus di antara para dewa. (Dhammapada 56)
Sadhu Sadhu Sadhu
Mereka yang terkaruniai kebajikan, yang berdiam dalam kewaspadaan, yang terbebas oleh pengetahuan benar, jejaknya tak dapat ditemukan Mara. (Dhammapada 57)
Sadhu Sadhu Sadhu
Bagaikan dari tumpukan sampah yang dicampakkan di tepi jalan, di sana dapat tumbuh teratai, yang harum murni menawan hati. (Dhammapada 58)
Sadhu Sadhu Sadhu
Demikianlah, di antara makhluk-makhluk kotor, di antara orang kebanyakan yang buta, siswa yang sadar sempurna bercahaya terang dengan kebijaksanaan. (Dhmmapada 59)
Sadhu Sadhu Sadhu
V)Bala Vagga (Kelompok Orang Dungu)
Malam itu panjang bagi yang terjaga, yojana itu jauh bagi yang letih, samsara itu lama bagi yang dungu, yang tidak mengenal Dhamma sejati. (Dhammapada 60)Sadhu Sadhu Sadhu
Jika seorang pengelana tidak menemukan orang yang lebih baik atau setara dengan dirinya, hendaknya ia teguh berkelana seorang diri. Janganlah bersahabat dengan orang dungu. (Dhammapada 61)
Sadhu Sadhu Sadhu
"Aku memiliki putra. Aku memiliki harta," orang dungu bergundah hati. Sesungguhnya ia pun tidak memiliki dirinya sendiri. Dari mana harta? Dari mana harta? (Dhammapada 62)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang dungu yang mengetahui kedunguannya, ia itu laksana orang bijak. Dan orang dungu yang bangga akan kepandaiannya, ia disebut orang dungu sesungguhnya. (Dhammapada 63)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sekalipun sepanjang hayat orang dungu melayani orang bijak, ia tidak mengerti Dhamma, seperti sendok tidak mengerti rasa sup. (Dhammapada 64)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sekalipun sejenak saja orang pandai melayani orang bijak, dengan segera ia mengerti Dhamma, seperti lidah mengerti rasa sup. (Dhammapada 65)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang dungu dan bodoh bertindak, seakan musuh diri sendiri, melakukan perbuatan buruk, yang berbuah pahit. (Dhammapada 66)
Sadhu Sadhu Sadhu
Tidaklah baik suatu perbuatan itu, yang disesali setelah dilakukan, yang akibatnya dihadapi dengan wajah berlinang air mata dan menangis. (Dhmammapada 67)
Sadhu Sadhu Sadhu
Adalah baik suatu perbuatan, yang tidak disesali setelah dilakukan, yang akibatnya dihadapi dengan gembira dan bahagia. (Dhammapada 68)
Sadhu Sadhu Sadhu
Orang dungu menganggap perbuatan jahat bagai madu selama perbuatan jahat belum matang. Dan tatkala perbuatan jahat matang, maka orang dungu itu akan mengalami duka. (Dhammapada 69)
Sadhu Sadhu Sadhu
Walau bulan demi bulan orang dungu memakan makanannya dengan ujung rumput kusa, ia tidaklah berharga seperenam belas bagian dari orang yang telah menembusi Dhamma. (Dhammapada 70)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sesungguhnya, perbuatan jahat setelah dilakukan tidak seketika berbuah, seperti halnya susu yang tidak mendadih seketika. Perbuatan jahat itu membara mengikuti orang dungu, laksana api tertutup abu. (Dhammapada 71)
Sadhu Sadhu Sadhu
Pengetahuan orang dungu muncul hanya untuk kerugiannya semata. Pengetahuan orang dungu mematikan peruntungannya, menghancurkan kepalanya. (Dhammapada 72)
Sadhu Sadhu Sadhu
Seseorang mungkin mendamba penghormatan yang tidak pada tempatnya, keutamaan di antara para bhikkhu, dan kuasa di tempat-tempat kediaman, serta pemujaan dari keluarga-keluarga sekitarnya. (Dhammapada 73)
Sadhu Sadhu Sadhu
"Biarlah para perumah tangga dan para petapa berpikiran bahwa itu dilakukan olehku saja, biarlah mereka menuruti kemaunku saja, dalam apa pun yang wajib dan tak wajib."Seperti inilah niat orang dungu. Keinginan dan kesombongannya bertambah. (Dhammapada 74)
Sadhu Sadhu Sadhu
Sesungguhnya ada jalan perolehan duniawi, ada jalan Nibbana. Demikianlah, setelah sepenuhnya paham, bhikkhu siswa Buddha, hendaknya tidak bergembira dalam penghormatan, melainkan berlatih dalam penyunyian. (Dhammapada 75)
Sadhu Sadhu Sadhu
No comments:
Post a Comment